Sabtu, 15 Juni 2024
Djogja Info

Dampak Banjir Bandang di Seram Bagian Timur, 842 Jiwa Mengungsi

Banjir Bandang di Seram Bagian Timur. (via BNPB)
Banjir Bandang di Seram Bagian Timur. (via BNPB)
Banjir Bandang di Seram Bagian Timur. (via BNPB)
Banjir Bandang di Seram Bagian Timur. (via BNPB)

Djogjainfo – Sebanyak 842 jiwa mengungsi akibat banjir bandang dan gelombang pasang yang terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku pada Selasa, (22/2) pukul 18.00 waktu setempat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Seram Bagian Timur melaporkan sebanyak 355 Kepala Keluarga (KK) atau 1.399 jiwa terdampak dan 842 jiwa diantaranya mengungsi.

Titik pengungsian berada di Somel Negeri Adm Hote, Kompi Senapan C Kaberasi dan sebagian di evakuasi ke rumah saudara yang lebih aman.

Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur, banjir menggenang di tiga kecamatan yakni Kecamatan Bula tepatnya di Desa Sesar dan Dusun Kampung Nelayan.

Kemudian Kecamatan Bula Barat, tepatnya Desa Negeri Adm. Hote. Kecamatan terakhir yang terdampak yakni Kecamatan Teluk Waru, tepatnya Desa Negeri Beli, Negeri Waru dan Negeri Solan.

Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur, banjir menyebabkan 45 unit rumah rusak berat, 3 unit rumah rusak sedang, 9 unit rumah rusak ringan dan satu saluran air sepanjang 1.500 meter rusak berat.

Selain melakukan evakuasi dan mendirikan tenda pengungsian, BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur telah memberikan bantuan berupa selimut, bantal, air mineral, terpal dan tanki air serta terus melakukan pendataan kebutuhan terhadap korban terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laman websitenya telah mengeluarkan peringatan dini tiga harian, pada Kamis, (24/2) hingga Sabtu (26/2).

BMKG menulis waspada hujan sedang hingga lebat dan dapat disertai kilat dan angin kencang di wilayah Kota Tual, Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan juga masyarakat melakukan upaya kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya hidrometeorologi basah, khususnya di puncak musim hujan ini.

Meskipun sudah menuju akhir musim hujan, tetapi potensi hujan dengan intensitas tinggi dan dalam durasi sedang hingga lama masih berpotensi terjadi.

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, masyarakat juga diharapkan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes), dan menyiapkan tas siaga yang dilengkapi peralatan dan perlengkapan yang mendukung prokes dalam kondisi darurat. (rls)

Leave a Reply