Sabtu, 13 Juli 2024
Djogja Info

Harga Tanaman Keladi Langka Mahal Bisa Jutaan, Ini Alasannya

Analis Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta, Anny Widi Astuti. Pemkot Yogyakarta)
Analis Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta, Anny Widi Astuti. Pemkot Yogyakarta)
Analis Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta, Anny Widi Astuti. Pemkot Yogyakarta)
Analis Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta, Anny Widi Astuti. Pemkot Yogyakarta)

Djogjainfo – Budidaya tumbuhan keladi sedang menjadi primadona pecinta tanaman hias. Motif daunnya yang warna-warni dan cantik membuat tanaman ini banyak diminati masyarakat.

Kini Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta tengah mengembangkan budidaya tanaman keladi melalui kultur jaringan.

Analis Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta, Anny Widi Astuti, Jumat (8/1) mengatakan dengan pengembangan menggunakan kultur jaringan diharapkan dapat membuahkan hasil yang maksimal serta menghemat biaya.

” Kita saat ini sedang menggeluti kultur jaringan tanaman keladi. Banyak dari masyarakat yang tertarik dengan tanaman ini. Maka kita kembangkan agar nantinya masyarakat bisa ikut menanam tanaman tersebut,” ujarnya dilansir dari laman Pemkot Yogyakarta.

Menurutnya, keunggulan budidaya keladi menggunakan model kultur jaringan adalah lebih mempermudah cara budidayanya dengan menggunakan bagian tanaman keladi seperti daun atau umbinya.

“ Bagian seperti daun dan umbinya ini lebih mempermudah kita untuk mengembangkan tanaman keladi dengan model kultur jaringan. Selain itu dapat menghasilkan benih keladi dalam jumlah banyak di waktu tertentu,” ujarnya.

Tak hanya itu, dengan menggunakan kultur jaringan benih menjadi seragam, hemat biaya, transportasi serta bebas dari hama penyakit.

Anny menjelaskan, pengembangan tanaman hias khususnya tanaman keladi sendiri jenisnya pun berbeda-beda. Ada jenis keladi lokal hingga jenis yang masih langka dan relatif mahal.

” Kita fokus kepada dua pengembangan tanaman keladi yakni lokal dan jenis yang langka. Hal ini untuk mendukung peningkatan tanaman hias di perkotaan agar semakin diminati warga,” jelasnya.

Hingga saat ini tingkat keinginan warga membeli tanaman hias sangat tinggi. Ada tiga jenis tanaman yang menjadi favorit warga yakni tanaman anggrek, keladi dan aglonema.

” Ketiga jenis tanaman tersebut masih menjadi incaran mereka, memang banyak diminati dan kami sering mengadakan kontes tanaman hias aglonema dan anggrek setiap tahun. Nah untuk keladi jenisnya ini masih belum kita berikan nama. Ada yang daunnya beberapa warna, dan memiliki bentuknya seperti gelombang cinta,” katanya.

Anny menambahkan, untuk harga tanaman keladi lokal sendiri berkisar Rp 10.000 per tanaman hingga Rp 15.000 per tanaman. Sedangkan untuk tanaman keladi jenis langka harganya berkisar puluhan ribu bahkan sampai jutaan.

” Yang membuat harga tanaman keladi mahal karena dari warna daun dan bentuknya serta dari asal usulnya yang mahal bahkan bisa dari luar negeri,” jelasnya.

Ia berharap, budidaya tanaman keladi ini dapat mendukung perkembangan tanaman hias di perkotaan dengan kultur jaringan. Harapannya nantinya bisa mendapatkan media dan penemuan yang tepat untuk hasil yang maksimal. (*)

Leave a Reply