Selasa, 18 Juni 2024
Djogja Info

Jual Bakso Berbahan Ayam Tiren, Pasutri di Bantul Untung Rp500 Ribu per Hari

Konferensi pers terkait penjual bakso yang ditangkap karena baksonya berbahan ayam tire. (Djogjainfo)
Konferensi pers terkait penjual bakso yang ditangkap karena baksonya berbahan ayam tire. (Djogjainfo)
Konferensi pers terkait penjual bakso yang ditangkap karena baksonya berbahan ayam tire. (Djogjainfo)
Konferensi pers terkait penjual bakso yang ditangkap karena baksonya berbahan ayam tire. (Djogjainfo)

Djogjainfo – Polisi menggerebek sebuah rumah di Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul karena digunakan untuk memproduksi bakso berbahan ayam tiren.

Pasangan suami istri (pasutri) berinisial MHS (51) dan AHR (50) berhasil diamankan.

Kapolres Bantul AKBP Ihsan SIK menjelaskan kejadian berawal saat salah seorang warga menemukan adanya ayam bangkai siap giling di salah satu tempat penggilingan daging di Kapanewon Pleret, Bantul. Hal tersebut berlanjut dengan pelaporan ke Polsek Pleret.

“Dapat laporan itu anggota lidik dan akhirnya mendatangi rumah tersangka di Jetis hari Jumat (21/1). Lalu bersama Dinkes dan Disdag ke lokasi untuk mengecek ke TKP, sampai TKP ditemukan bakso berbahan ayam tiren yang sudah diproduksi,” kata Ihsan saat jumpa pers di Polres Bantul, Senin (24/1/2022).

Polisi turut mengamankan barang bukti di antaranya dua unit freezer, satu unit mesin adonan bakso, satu unit genset, timbangan, ember, kompor gas, tabung gas dan beberapa plastik untuk pembungkus bakso.

“Kemudian satu unit kipas angin, satu plastik berisi 15 butir bakso, ada juga yang isi 5 butir bakso. Untuk kedua tersangka ini adalah pasangan suami istri, keduanya memproduksi bakso di rumah yang bersangkutan,” ujarnya dikutip dari laman resmi Polres Bantul.

Atas perbuatannya, pasutri itu disangkakan pasal 204 ayat 1 KUHP, pasal 62 ayat 1 UU RI no 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen atau UU No 12 tahun 2012 tentang perubahan atas UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan.

“Dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, terungkap produksi bakso ayam tiren itu sejak tahun 2015 dan diedarkan ke tiga pasar di Kota Jogja.

“Dari keterangan, tersangka mengaku bahwa sudah memproduksi bakso bahan ayam tiren sejak tahun 2015, jadi hampir 7 tahun,” imbuh Ihsan.

“Sebelumnya tersangka berkecimpung di usaha yang sama sejak 2010 tapi pakai ayam normal (segar). Karena harga ayam tinggi dan tidak dapat untung maka yang bersangkutan pakai ayam tiren tahun 2015. Sehingga motifnya ini ingin dapat keuntungan lebih besar,” lanjut Ihsan.

Ihsan menjelaskan ayam tiren itu didapatkan dari supplier. Harga ayam tiren itu sekitar Rp 10 ribu per kilogram.

“Dari keterangan harga ayam tirennya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram. Ayam tiren itu dibeli dari pengecer di sekitar Bantul,” ujarnya.

Sedangkan dalam sehari, pasutri ini menghabiskan 35 kilogram ayam tiren. Nantinya 35 kilogram ayam tersebut dapat menjadi adonan bakso dengan berat 75 kilogram.

“Sehari mereka mengolah 35 kilogram ayam tiren jadi adonan 75 kilogram. Untuk keuntungan keduanya Rp 500 ribu per hari,” ujarnya.

Terkait pemasaran bakso ayam tiren tersebut, Ihsan mengungkapkan bahwa kedua tersangka memasarkannya ke 3 pasar yang ada di Kota Jogja. Pemasaran itu melibatkan tetangganya yang menjadi pengecer bakso.

“Kemudian, tersangka juga menyampaikan bahwa produksi baksonya dijual di tiga pasar di Kota Jogja, jadi setelah produksi istrinya yang mengantar ke pasar-pasar tersebut,” ucapnya.

“Jadi di Bantul tidak ada, tiga pasar itu di Kota Jogja yakni Pasar Demangan, Pasar Kranggan dan Pasar Giwangan. Dari keterangan tersangka memilih memasarkan di Bantul karena saingannya sudah banyak,” imbuh Ihsan.

Sementara itu, MHS mengakui dan menyesali semua perbuatannya. Di sisi lain, MHS menyebut merasa senang bisa tertangkap polisi karena sudah sejak lama dia ingin berhenti, namun tidak enak dengan tetangganya karena tidak akan memiliki pemasukan.

“Senang sekali (tertangkap) karena bisa berhenti (membuat bakso ayam tiren). Yang jelas saya mengakui kesalahan dan siap dengan risikonya,” ucap MHS.

MHS juga mengakui jika sudah membuat bakso berbahan ayam tiren sejak 7 tahun yang lalu. Hal itu dilakukan karena harga ayam yang terus naik dan membuat keuntungannya berkurang drastis. Dengan bahan ayam tiren, MHS menyebut mampu mendulang keuntungan bersih Rp 500 ribu setiap harinya.

“Iya (7 tahun). Kalau idenya dari saya sendiri karena terhimpit harga ayam yang tinggi, mau dinaikkan harga baksonya sulit jadi terpaksa kami cari akal gimana bisa tetap dapat untung,” ujarnya.

“Kalau habis berapa ayam tiren sehari itu kurang lebih 15-20 ekor, dengan total berat sekitar 35 kilogram. Dari jumlah itu nanti jadi 75 kilogram adonan bakso,” lanjut MHS. (*)

Leave a Reply