Sabtu, 15 Juni 2024
Djogja Info

Lebih Dari 21 Ribu Ember Si Wolly Nyaman Diambil, Ini Upaya Sleman Tekan DBD

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, SE mengamati jentik nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di mini lab pada workshop evaluasi dan penarikan ember si wolly nyaman pada 28 Januari 2022. (WMP Yogyakarta)
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, SE mengamati jentik nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di mini lab pada workshop evaluasi dan penarikan ember si wolly nyaman pada 28 Januari 2022. (WMP Yogyakarta)
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, SE mengamati jentik nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di mini lab pada workshop evaluasi dan penarikan ember si wolly nyaman pada 28 Januari 2022. (WMP Yogyakarta)
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, SE mengamati jentik nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di mini lab pada workshop evaluasi dan penarikan ember si wolly nyaman pada 28 Januari 2022. (WMP Yogyakarta)

Djogjainfo – Setelah masa penitipan ember yang berlangsung sejak Agustus 2021 selama 6 bulan selesai, dilakukan penarikan ember Si Wolly Nyaman yang dititipkan di rumah Orang Tua Asuh (OTA) dan fasilitas umum di wilayah Kabupaten Sleman.

Hal ini berdasarkan hasil pengamatan persentase Wolbachia telah mencapai lebih dari 60%. Sebanyak 21.492 buah ember akan ditarik pada periode 24 Januari- 4 Februari 2022.

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Bupati Sleman memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah mendukung jalannya program ini.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, SE menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam program Si Wolly Nyaman.

Sebanyak 13 kapanewon, 20 Puskesmas, 39 kalurahan telah berpartisipasi dalam implementasi teknologi Wolbachia tersebut.

“Kami ucapkan terima kasih kepada kurang lebih 3.000 kader kesehatan yang secara rutin melakukan penggantian isi ember, masyarakat Sleman yang telah berpartisipasi menjadi Orang Tua Asuh (OTA), dan seluruh pihak yang terlibat aktif menyukseskan program ini,” ujar Danang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes menambahkan bahwa “Program ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan semua pihak.

Semoga nyamuk ber-Wolbachia bisa berkembang biak dengan baik dan menetap di Sleman, sehingga harapannya dapat menurunkan kasus DBD secara signifikan,” ungkap dr. Cahya.

Apresiasi dari Bupati Sleman dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman tersebut disampaikan saat acara seremoni penarikan ember telur nyamuk ber-Wolbachia tanggal 28 Januari 2022 di Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman.

Pada acara yang dilakukan secara daring dan luring tersebut turut dilakukan evaluasi akhir program yang diikuti oleh para perwakilan kapanewon dan kalurahan di Sleman.

dr. Eggi Arguni, Sp.A.(K), Ph.D, Diagnostic Team Leader WMP Yogyakarta yang hadir dalam acara seremoni, turut menyampaikan bahwa dari hasil pengamatan (monitoring) yang dilakukan menunjukkan bahwa saat ini secara akumulasi nyamuk ber-Wolbachia di Sleman telah berkembang dengan baik dan stabil di persentase yang tinggi.

Harapannya setelah penitipan ember dihentikan, nyamuk yang ber-Wolbachia akan terus berkembang secara alami di proporsi yang tinggi.

“Setelah penarikan ember yang telah dititipkan di rumah Orang Tua Asuh dan fasilitas umum dalam periode 6 bulan (12 kali penitipan), masih akan dilakukan monitoring Wolbachia sebanyak 2 kali, untuk melihat bagaimana perkembangan nyamuk ber-Wolbachia,” ujar dr. Eggi

dr. Eggi menambahkan, berdasarkan hasil penelitian Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) yang menggunakan metode Randomised Controlled Trial di Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa Wolbachia terbukti efektif menurunkan 77% kasus dengue dan menurunkan 86% kasus dengue yang dirawat di rumah sakit.

“Namun demikian, potensi adanya kasus DBD dan penyakit lain yang disebabkan oleh vektor nyamuk masih ada. Hal ini dikarenakan mobilitas warga dari dan ke area Sleman yang tidak dapat dikendalikan. Karenanya, warga tetap disarankan untuk tetap waspada dengan tetap melanjutkan program penanggulangan DBD yang sudah berjalan, seperti pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 4M plus, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, dan program lainnya, baik di wilayah yang telah disebari nyamuk ber-Wolbachia dan tidak,” pesan dr. Cahya. (rls)

Leave a Reply