Rabu, 22 Mei 2024
Djogja Info

Tarik Minat Petani Milenial, Sleman Gencarkan Pertanian Sistem Presisi

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa saat panen raya pertanian sistem presisi di Sumberharjo, Prambanan. (Pemkab Sleman)
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa saat panen raya pertanian sistem presisi di Sumberharjo, Prambanan. (Pemkab Sleman)
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa saat panen raya pertanian sistem presisi di Sumberharjo, Prambanan. (Pemkab Sleman)
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa saat panen raya pertanian sistem presisi di Sumberharjo, Prambanan. (Pemkab Sleman)

Djogjainfo, Sleman – Rabu (22/6), bertempat di Sumberharjo, Prambanan, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, melakukan panen raya beras organik yang menerapkan sistem pertanian presisi.

Kegiatan tersebut merupakan program kolaborasi antara TelkomselDFE dan Koperasi Milenial Petani Kreatif Yogyakarta (KOMPAKYO) serta didukung oleh sejumlah instansi terkait.

Baca juga: Bupati Sleman Positif Covid-19, Begini Kondisinya

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, berharap dengan adanya sistem pertanian presisi yang digagas oleh TelkomselDFE dan KOMPAKYO ini semakin menggugah para generasi milenial untuk bertani.

Sebab menurutnya generasi milenial dapat lebih mudah mengoperasikan teknologi yang ada dalam sistem pertanian presisi ini, sehingga hasilnya pun diharapkan hasilnya bisa lebih optimal.

“Saat ini di Sleman mayoritas petani itu di atas usia 50 tahun. Maka dengan adanya pertanian presisi ini dapat menggugah para generasi milenial untuk mencintai pertanian,” ujarnya.

Sementara Adrian Leo Hadipradata dari KOMPAKYO juga menyebutkan bahwa dengan sistem pertanian presisi tersebut, petani semakin dipermudah dengan adanya bantuan teknologi.

Diantara teknologi yang digunakan dalam penanaman padi organik tersebut yaitu alat untuk memantau cuaca atau Automatic Weather Station (AWS) dan drone untuk penyemprotan pestisida.

“Lahan organik KOMPAKYO di Kalurahan Sumberharjo sekarang ini ada 10 hektar. Impian kami lahan tersebut kedepannya dapat mencapai 100 hektar, yang sekaligus dapat menjadi tempat belajar petani milenial dari hulu hingga hilir,” imbuhnya.

Baca juga: Kasus Saling Tatap, Ini Kronologi Pengeroyokan 5 Pelaku Terhadap 2 Remaja di Sleman

Dalam kegiatan tersebut juga digelar upacara wiwitan sebelum dimulainya panen padi organik. Upacara wiwitan merupakan tradisi masyarakat Jawa pada umumnya sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan hasil panen yang baik.

Selain itu juga ditampilkan seni teaterikal yang menggambarkan sosok Dewi Sri sebagai penjaga tanaman padi dari serangan hama. (*)

Leave a Reply